06.21
Unknown

Penulis: Pipiet Senja
Versi Novel Digibook
Dalam novel ini, Pipiet Senja mengisahkan tentang seorang Garsini, remaja muslimah, yang sejak kecil selalu ingin membuktikan kemampuannya dengan meraih prestasi demi prestasi. Awal tujuannya adalah untuk menarik perhatian serta kasih sayang ayahnya yang seringkali memperlakukannya kasar dan pilih kasih di antara tiga bersaudara. Terutama dengan adik laki-lakinya, Ucok, yang mendapat perlakuan istimewa dari sang ayah.
Berangkat dari ketakharmonisan rumah tangga orang tuanya, Garsini berhasil membuktikan dirinya sebagai anak yang bisa dibanggakan. Lulus SMU, ia kuliah di Universitas Indonesia. Semester tiga, ia berhasil meraih beasiswa Monbusho dari pemerintah Jepang.
Garsini meninggalkan Tanah Air dengan satu tujuan; membuktikan kepada dunia bahwa gadis Muslimah, berjilbab, akhwat seperti dirinya pun mampu �berbicara di dunia internasional�. Di kalangan rekan-rekannya di Universitas Tokyo, Garsini dikenal sebagai mahasiswi enerjik, jenius, taat beribadah dengan busana unik, kepribadian tangguh.
Di kalangan para dosen, Garsini pun dihargai dan disayangi. Sehingga ada seorang guru besar tamu di universitasnya, Profesor Charles del Pierro, terkesan sekali dengan sosoknya dan menjadikannya asistennya. Dengan dukungan yayasan sosial yang disponsori Profesor tua dari Perancis itu, mantan tomboy ini menerbitkan kamus perbandingan antarbangsa-bangsa Asia, CD-nya ala Garsini.
Pelbagai pengalaman selama di negeri sakura telah menempanya menjadi sosok yang dewasa, tanpa meninggalkan kekaffahannya sebagai gadis Muslimah. Adakah ia menerima khitbah dokter Haekal yang telah lama dikenalnya sejak di Indonesia? Ataukah ia memilih tawaran bea-siswa dari Universitas Sorbonne, berkat rekomendasi Profesor Charles del Pierro?
Silakan download dan ambil ibrah dari novel digibook ini.
Download novel karya Pipiet Senja atau baca lanngsung novel Kapas-Kapas Di Langit secara online di blog ini...
Berangkat dari ketakharmonisan rumah tangga orang tuanya, Garsini berhasil membuktikan dirinya sebagai anak yang bisa dibanggakan. Lulus SMU, ia kuliah di Universitas Indonesia. Semester tiga, ia berhasil meraih beasiswa Monbusho dari pemerintah Jepang.
Garsini meninggalkan Tanah Air dengan satu tujuan; membuktikan kepada dunia bahwa gadis Muslimah, berjilbab, akhwat seperti dirinya pun mampu �berbicara di dunia internasional�. Di kalangan rekan-rekannya di Universitas Tokyo, Garsini dikenal sebagai mahasiswi enerjik, jenius, taat beribadah dengan busana unik, kepribadian tangguh.
Di kalangan para dosen, Garsini pun dihargai dan disayangi. Sehingga ada seorang guru besar tamu di universitasnya, Profesor Charles del Pierro, terkesan sekali dengan sosoknya dan menjadikannya asistennya. Dengan dukungan yayasan sosial yang disponsori Profesor tua dari Perancis itu, mantan tomboy ini menerbitkan kamus perbandingan antarbangsa-bangsa Asia, CD-nya ala Garsini.
Pelbagai pengalaman selama di negeri sakura telah menempanya menjadi sosok yang dewasa, tanpa meninggalkan kekaffahannya sebagai gadis Muslimah. Adakah ia menerima khitbah dokter Haekal yang telah lama dikenalnya sejak di Indonesia? Ataukah ia memilih tawaran bea-siswa dari Universitas Sorbonne, berkat rekomendasi Profesor Charles del Pierro?
Silakan download dan ambil ibrah dari novel digibook ini.
Download novel karya Pipiet Senja atau baca lanngsung novel Kapas-Kapas Di Langit secara online di blog ini...
ATAU
05.13
Unknown
Potret Aceh tahun 1874
Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf K�hler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. K�hler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira. Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin K�hler. K�hler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana K�hler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873.
Pada Tahun 1874 pecah Perang Aceh II yang berakhir pada tahun 1880. pada tahun-tahun tersebut merupakan tahun paling bersejarah bagai rakyat Aceh. sebagai gambaran bagaimana kondisi kutaraja (Ibukota Aceh) pada tahun 1874, berikut ada 70 koleksi foto-foto yang sempat direkam oleh pihak Belanda.
1. Bibak Belanda di Peunayong (Pengawalan disisi Timur) 1874

2. Mesjid Raya dengan Pasar Hewa � 1881

3. Mesjid Raya di Koetaraja

4. Perwira-perwira Marine Belanda � 1874

5. Kemah Bermain Musik dengan dekorasi � 1874

6. Medan depan �Dalam� Sultan Aceh � 1880

7. Kandang XII (Komplek Makam XII Sultan di Koetaraja)

8. Suasana Neusu � 1874

9. Pemandangan Bagian Timur Mesjid Raya

10. Benteng Belanda di Peunayong (Benteng Barat Laut) 1874

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf K�hler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. K�hler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira. Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin K�hler. K�hler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana K�hler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873.
Pada Tahun 1874 pecah Perang Aceh II yang berakhir pada tahun 1880. pada tahun-tahun tersebut merupakan tahun paling bersejarah bagai rakyat Aceh. sebagai gambaran bagaimana kondisi kutaraja (Ibukota Aceh) pada tahun 1874, berikut ada 70 koleksi foto-foto yang sempat direkam oleh pihak Belanda.
1. Bibak Belanda di Peunayong (Pengawalan disisi Timur) 1874

2. Mesjid Raya dengan Pasar Hewa � 1881

3. Mesjid Raya di Koetaraja

4. Perwira-perwira Marine Belanda � 1874

5. Kemah Bermain Musik dengan dekorasi � 1874

6. Medan depan �Dalam� Sultan Aceh � 1880

7. Kandang XII (Komplek Makam XII Sultan di Koetaraja)

8. Suasana Neusu � 1874

9. Pemandangan Bagian Timur Mesjid Raya

10. Benteng Belanda di Peunayong (Benteng Barat Laut) 1874

05.56
Unknown

Penulis: Ahmad Tohari
Versi Novel Digibook
Novel digibook ini menceritakan tentang penyimpangan-penyimpangan dalam bidang politik, ketika salah satu calon lurah menggunakan cara kotor agar dapat memenangkan dirinya menjadi seorang lurah di daerahnya. Dari situlah sosok Pambudi muncul sebagai tokoh yang sangat menentang adanya tindakan kotor tersebut.
Pambudi yang terpojokkan karena adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut di atas, merasakan keresahan: di desa yang sekecil Tanggir, di tengah infrastruktur yang seminim di Tanggir, dihadapkan pada pilihan yang sesedikit di Tangir. Tak pelak lagi, kota menjadi tanah terjanji bagi Pambudi si anak desa. Pertama kali Pambudi menunjukkan keberhasilannya di kota melalui kecakapannya. Dia merangkul sebuah harian lokal untuk mencari dana pengobatan tetangganya yang mengidap kanker. Semenjak itulah Pambudi sangat disegani dan dihormati karena kebaikan luhur budinya.
Kejadian tersebut membuat Pak Dirga�lurah Desa Tanggir�merasa terusik dan berusaha untuk menjatuhkan nama seorang Pambudi. Ia menebarkan berita kalau Pambudi menyelewengkan dana koperasi. Akan tetapi, Pambudi tetap tenang dalam mengatasi persoalan tersebut. Ia lebih memilih mengikuti anjuran orang tuanya untuk pergi ke kota atau kemanapun, yang penting jauh dari Desa Tanggir. Apapun yang ia lakukan disana terserah, yang penting ia lekas pergi dari desanya yang banyak menyimpan kepahitan. Dan dia pun berhasil hidup tenang di Yogya. Setelah lama berada di Yogya ia memutuskan untuk kuliah atas anjuran temannya. Selain kuliah, ia juga bekerja pada Harian Kalawarta yang pernah menerimanya. Ia hidup dengan tenang di Yogya sampai akhirnya memperoleh gelar sarjana. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu sebelum ia sempat pulang kembali ke Tanggir.
Sejak saat itulah ia kembali bertemu dengan Mulyani�anak gadis mantan majikannya dan adik kelasnya di kampus. Pertemuan itu kemudian berlanjut menjadi kisah cinta antara mereka berdua. Pambudi hendak meminangnya sebagai istrinya.
Download novel karya Ahmad Tohari disini...
Pambudi yang terpojokkan karena adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut di atas, merasakan keresahan: di desa yang sekecil Tanggir, di tengah infrastruktur yang seminim di Tanggir, dihadapkan pada pilihan yang sesedikit di Tangir. Tak pelak lagi, kota menjadi tanah terjanji bagi Pambudi si anak desa. Pertama kali Pambudi menunjukkan keberhasilannya di kota melalui kecakapannya. Dia merangkul sebuah harian lokal untuk mencari dana pengobatan tetangganya yang mengidap kanker. Semenjak itulah Pambudi sangat disegani dan dihormati karena kebaikan luhur budinya.
Kejadian tersebut membuat Pak Dirga�lurah Desa Tanggir�merasa terusik dan berusaha untuk menjatuhkan nama seorang Pambudi. Ia menebarkan berita kalau Pambudi menyelewengkan dana koperasi. Akan tetapi, Pambudi tetap tenang dalam mengatasi persoalan tersebut. Ia lebih memilih mengikuti anjuran orang tuanya untuk pergi ke kota atau kemanapun, yang penting jauh dari Desa Tanggir. Apapun yang ia lakukan disana terserah, yang penting ia lekas pergi dari desanya yang banyak menyimpan kepahitan. Dan dia pun berhasil hidup tenang di Yogya. Setelah lama berada di Yogya ia memutuskan untuk kuliah atas anjuran temannya. Selain kuliah, ia juga bekerja pada Harian Kalawarta yang pernah menerimanya. Ia hidup dengan tenang di Yogya sampai akhirnya memperoleh gelar sarjana. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu sebelum ia sempat pulang kembali ke Tanggir.
Sejak saat itulah ia kembali bertemu dengan Mulyani�anak gadis mantan majikannya dan adik kelasnya di kampus. Pertemuan itu kemudian berlanjut menjadi kisah cinta antara mereka berdua. Pambudi hendak meminangnya sebagai istrinya.
Download novel karya Ahmad Tohari disini...
ATAU
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter